Pengelolaan Usaha di Masa “Ekonomi tidak Normal”

Standard

Tidak ada yang berhasil memprediksi kapan naik dan turunnya ekonomi akibat dari di masa sekarang ini hampir selalu pasar yang menentukan. Pemberitaan Negatif yang menghasilkan Sentimen negatif tidak selalu membuat pegerakan negatif di pasar, begitu juga sebaliknya. Situasi ekonomi tahun 2015 yang unpredictable ini membuat anomali baru dalam kegiatan ekonomi secara umum. Konon katanya setiap keadaan Ekonomi tidak Normal (krisis, kata yang tidak bisa digunakan karena konon situasi saat ini bukan krisis tapi tidak normal).

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara Dialog REI dengan Menteri Keuangan Prof Bambang Brodjonegoro dan Dirjen Pajak Sigit Priadi. Dalam acara ini hampir semua pengusaha daerah mengeluh tentang semakin ketatnya perpajakan yang memberatkan pengusaha di daerah. Memang peraturan perpajakan di Indonesia dapat dikatakan masih banyak sekali area abu-abu yang dapat menimbulkan “Gayus-gayus” yang baru di daerah.

Akibat dari peraturan perpajakan yang masih abu-abu ini membuat pengusaha menjadi ragu-ragu dalam melakukan pengembangan. Tidak sedikit teman-teman pengembang yang dapat dikatakan menjadi malas melakukan pengembangan baru selain karena perekonomian melemah juga karena kurang jelasnya aturan perpajakan.

Mestinya dimasa Ekonomi tidak Normal target pajak dikurangi, justru diberikan keringanan sampai dengan pembayaran pokok pajak bahkan persentasenya diturunkan, mana lebih baik persentase tinggi tapi sembunyi2 atau persentase rendah tapi semua mau jujur? Minimal kalo awalnya rendah nanti perlahan bisa dinaikkan bukan? Kalo berkaca dari kampanye presiden di Amerika Serikat, salah satu kampanye yang dilakukan calon presiden di negeri Paman Sam tersebut adalah menurunkan Persentase Pajak, kenapa di Indonesia tidak bisa? Saya sangat yakin ketika Ekonomi membaik Pajak bisa ditingkatkan lagi persentasenya sehingga Pengusaha tidak keburu kolaps.

Selain itu sudah saatnya bunga perbankan mestinya diturunkan bukannya terus2an ga turun2 gimana pengusaha bisa kerja, bunga di negara tetangga cuman 3% kita diatas 11% secara ga langsung mau bunuh perusahaan lokal dong? Terutama ketika perusahaan negara tetangga mau masuk Indonesia dengan dana besar hasil pinjaman dari bank yang bunganya lebih rendah tentu mereka bisa bersaing dengan mudah.

Sempat saya melakukan perbincangan dengan salah satu staff ahli dari Menteri Keuangan beliau mengatakan savings di negara kita terus mengalami peningkatan bahkan sempat beberapa minggu yang lalu terjadi peningkatan sebesar 100 triliun rupiah. Wow, ini angka yang masif bukan? Artinya kemungkinan besar dana savings di bank-bank di Indonesia nilainya Ribuan triliun. Kalo kita berpikir secara simpel, kenapa angka sebesar itu ada di tabungan? Ya pasti karena kebanyakan orang tidak berani belanja atau berinvestasi, salah satunya karena banyak orang dalam kondisi wait and see melihat kondisi ekonomi yang masih saja tidak normal, selain itu karena masih abu-abunya peraturan tentang perpajakan.

Disini kita dapat melihat bahwa ekonomi Indonesia ini sebenarnya tidak hanya digerakkan oleh APBN kok, walaupun sudah cair 100% APBN kita, ekonomi tidak akan bergulir normal kalo orang yang memiliki dana hingga triliunan itu tidak berbelanja atau berinvestasi. Selama mereka tidak melakukan spending saya yakin ekonomi kita akan tetap seperti ini hingga tahun depan, terkecuali pemerintah berhasil mengeluarkan kebijakan yang super menarik sehingga mampu merayu para pemilik savings tersebut untuk berbelanja atau berinvestasi.

Melihat banyak kondisi yang membuat ekonomi semakin tidak normal tersebut memang tidak semua pengusaha merasakan imbas negatifnya. Dalam kondisi seperti ini selalu ada Peluang dengan Tantangan yang menarik, bahkan dapat memberikan keuntungan maksimal ketika ekonomi mengalami perbaikan nanti.

Tetapi untuk melewati kondisi saat ini diperlukan kegigihan tekad dan strategi yang baik, beberapa tindakan yang dapat dijadikan acuan dalam mengelola usaha di kondisi ekonomi tidak normal adalah sebagai berikut:

Melakukan penjualan terhadap aset yang dimiliki

Dalam segala jenis kegiatan usaha dan khususnya sebagai enterpreneur yang baik sudah selayaknya kita memiliki kemampuan untuk mengatur cashflow yang dapat membuat perusahaan yang kita nahkodai tetap hidup di masa badai ekonomi seperti saat sekarang ini.

Ketika dalam kondisi unpredictable seperti saat ini minimal perusahaan kita mampu hidup dan bertahan selama minimal 1 tahun. Apa yang kita perlukan untuk dapat bertahan hidup selama itu? “CASH” adalah jawabannya. CASH is the King kata banyak orang saat ini, salah satu cara mendapatkannya adalah menjual aset yang kita miliki untuk dapat bertahan selama itu.

Melakukan restrukturisasi hutang

Perhitungan cashflow yang ketat perlu dilakukan ketika ekonomi berada dalam kondisi tidak normal. Pengetatan pengeluaran bulanan tentu didalamnya termasuk juga pembayaran kewajiban bunga bank yang menjadi beban perusahaan. Ketika penjualan aset terdapat kelebihan cash untuk usaha tersebut dapat bertahan, maka lakukanlah pembayaran pokok hutang perusahaan yang saat ini menjadi beban perusahaan.

Namun ketika dana tersebut juga belum dapat membayarkan pokok hutang yang dimiliki oleh perusahaan maka perlu dilakukan proses restrukturisasi hutang. Caranya? beberapa contohnya sebagai berikut, misal angsuran bulanan yang di dalamnya berisikan pembayaran pokok dan bunga, dimohonkan ke bank untuk bayar bunganya saja untuk sementara waktu (reschedule pembayaran angsuran), permohonan penurunan bunga, dan sebagainya. Intinya adalah restrukturisasi yang dapat meringankan beban usaha dalam pembayaran angsuran bulanan.

Efektivas kerja SDM

Melakukan pengetatan kinerja SDM, dalam hal ini memang di beberapa perusahaan besar pada khususnya akan mengalami yang namanya perampingan jumlah SDM, akibat dari beban biaya Gaji SDM merupakan salah satu yang menjadi beban bulanan perusahaan. Terjadinya perampingan jumlah karwayan ini tentu merupakan kebijakan strategis perusahaan. Contohnya pada masa ekonomi baik sampai tenaga perbaikan kabel di perusahaan pun ada, nah pada saat ekonomi sulit tenaga kerja yang memiliki job desc yang dirasa kurang perlu akan di kurangi jumlahnya. Bahkan mungkin ada pekerjaan yang biasanya dikerjakan 3 orang akan di kurangi menjadi 1 orang saja.

Efektivitas kinerja SDM menjadi dasar yang penting dalam perusahaan yang bergerak di masa ekonomi tidak normal. Semua SDM mesti bergerak sesuai arahan yang terfokus untuk menggerakkan perusahaan untuk melewati kondisi ekonomi yang kurang baik.

Efisiensi Belanja Barang

Setiap usaha baik usaha dagang, jasa maupun produksi untuk menggerakkan usahanya dalam kegiatan penjualan tentu memerlukan bahan pokok. contoh misal usaha dagang pasti perlu beli barang dagangan untuk dijual, nah disini seorang pengusaha mesti jeli untuk membelanjakan uangnya. Mesti dipilih barang mana yang lebih cepat mencairkan uang, sehingga pengusaha dapat menjaga cashflow tetap positif.

Tekan biaya serendah-rendahnya

Yang terakhir adalah menekan biaya bulanan serendah-rendahnya. Segala biaya yang tidak perlu harus di kurangi, Jika perusahaan tersebut harus mengirit biaya, hal itulah yang mesti dilakukan. Contoh, misal perusahaan harus mengirit biaya listrik maka dilakukan pengawasan terhadap penggunaan barang elektronik yang tidak perlu sehingga beban biaya perusahaan menjadi lebih ringan.

5 Hal tadi merupakan tindakan yang mesti dilakukan pengusaha demi menjaga perusahaanya untuk dapat melewati kondisi ekonomi yang tidak normal seperti saat ini.

 

Memang sebenarnya kondisi tahun 2015 ini merupakan kondisi yang bukan Krisis, hanya saja tidak bergulir. Banyak masyarakat juga mengalami pengetatan belanja, Kenapa? Karena harga BBM tidak lagi disubsidi pemerintah. Beberapa jenis kebutuhan pokok harganya sempat mengalami peningkatan yang signifikan, sehingga terjadi pengetatan pengeluaran, akibatnya terjadilah kondisi seperti saat ini ketidakmampuan banyak masyarakat umum untuk berbelanja/berinvestasi.

Namun saya yakin kondisi ekonomi tidak normal ini akan berakhir ketika dana savings yang nilainya Ribuan Triliun yang sempat saya ulas diatas kembali beredar, kita tentu berharap ini segera terjadi, agar kondisi tidak normal ini dan kondisi likuiditas ketat ini berakhir, sehingga ekonomi Indonesia bisa tancap Gas dan segera melewati perangkap Negara yang terus-terusan saja berkembang dan tidak Maju-maju.

Semoga Bermanfaat

Gede Semadi Putra

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s