Berjuang saat Kondisi Ekonomi Melemah Drastis

Standard

 

Ketika tahun 2015 dimulai hampir sebagian besar pemilik usaha di Indonesia berharap akan terjadinya perubahan maupun perbaikan dari tahun sebelumnya, Ya Wajar rasanya, Kenapa? ya biasanya ketika terjadi pergolakan politik (Pileg dan Pilpres) kegiatan ekonomi agak tersendat akibat dari banyak pemain (pengusaha) besar melakukan tindakan wait n see, melihat pemimpin selanjutnya, visi misinya, kendaraan politiknya, independensinya, serta menteri2nya. Kenyataannya? menteri sudah terpilih tapi ternyata 2015 yang sudah lewat 1 semester grafik ekonomi masih juga menunjukkan penurunan? Kenapa?

Hampir semua jenis usaha mengalami perlambatan serta penurunan omset yang begitu drastis. Contoh saja dunia properti mengalami pukulan telak, dan tidak sedikit pengembang yang berujung pada kebangkrutan alias gulung tikar, bagaimana tidak, omsetnya banyak yang mengalami penurunan hingga 80%, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dunia usaha retail pakaian juga mengalami kemerosotan yang sama, bahkan teman yang bergerak di bidang bengkel mobil yang tahun sebelumnya memiliki omset 100juta kini menjadi hanya 20juta rupiah, sampai-sampai mengatakan bahwa usahanya hanya mampu bertahan 3 bulan kalo terus menerus seperti ini. Bagaimana mau bayar gaji pegawai, belum lagi kebutuhan hidupnya. Bayangkan kemerosotan ini akan terjadi di hampir semua bisnis, akibatnya tentu semua orang akan mengencangkan ikat pinggang, alias mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu yang menjadi beban bulanan yang memberatkan baik kehidupan pribadi maupun perusahaan.

Belum lagi kondisi di Indonesia yang memiliki suku bunga kredit yang begitu tinggi, dengan angka dua digit, jika dibandingkan negara tetangga kita jauh kalah kelas. Pengusaha disana diberikan kredit dengan bunga 1 digit bahkan ada yang bisa sampai 1.5% per tahun.

Sudah menjadi harapan besar bagi para pengusaha di indonesia akan adanya penurunan suku bunga bank indonesia, namun alasan tidak menurunkan suku bunga selalu saja akibat ketakutan akan dana investor asing lari dari indonesia. Akibatnya tentu terjadi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Ditambah lagi beberapa tahun belakangan indonesia selalu mengalami defisit neraca perdagangan yang artinya lebih besar impor daripada ekspor sehingga juga menekan nilai rupiah terhadap dollar. Walaupun menurut informasi bulan mei 2015 terjadi surplus ya tentu penyebabnya adalah karena nilai tukar rupiah melemah jadi kalo bayarannya dollar jadinya surplus, tapi kalo cuman satu bulan saja surplus rasanya tidak akan mempengaruhi situasi ekonomi yang terus berjalan.

Memang jika melihat banyak negara di asean saja bunga kreditnya bahkan dibawah 5% suku bunga bank sentralnya sangat rendah, iri rasanya mendengar hal seperti ini. Khususnya di masa-masa sulit seperti sekarang ini, dimana beban biaya termasuk bunga bank yang terus saja menggerus daya tahan kas banyak perusahaan.

 

Ketika perusahaan mengalami penekanan biaya tentu yang pertama dilakukan adalah penciutan SDM, akibatnya? banyak akan terjadi perampingan jumlah SDM yang pengaruhnya besar terhadap jalannya roda perekonomian. Akibatnya konsumsi kebutuhan diluar sembako menjadi menurun, apalagi investasi. Banyak orang yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas akan berpikir keras untuk berinvestasi karena mereka terlebih dahulu harus mampu memenuhi kehidupan diri maupun keluarganya.

Oleh karena itu sangat diperlukan stimulus pemerintah seegera yang mampu menyentuh ekonomi daerah secara langsung agar ekonomi berjalan normal kembali. Karena jika menunggu pencairan APBN untuk bisa menggerakkan ekonomi memerlukan proses birokrasi yang masih sangat ruwet dan perlu proses yang panjang. Ditambah lagi beban APBN kita terhadap pembayaran hutang negara yang begitu besar, yang hingga saat ini belum ada rencana untuk di reschedule. Mestinya hutang tersebut di reschedule sehingga beban pembayaran hutang tidak besar dan uang APBN bisa maksimal digunakan untuk stimulus ekonomi baik itu pembuatan infrastruktur maupun yang lainnya.

Kondisi ini sangat berbahaya utk ekonomi secara makro, akibatnya banyak investor nasional ataupun pengusaha berkantong tebal yang agak kurang nekat, tetap menyimpan uangnya di rekeningnya masing-masing dan sampai saat ini masih wait n see. Bagi investor yang agak nekat sekarang mereka berbelanja karena banyak aset yang nilainya dibawah nilai pasar, ya salah satunya karena memiliki pinjaman di perbankan yang bunganya sangat tinggi.

Dampak yang terjadi ketika pengusaha ataupun investor berkantong tebal masih wait n see alias tidak berbelanja/berinvestasi? ya ekonomi tidak berjalan normal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya 1-5% orang di Indonesia yang benar-benar menggerakkan perekonomian nasional, yang ketika diakumulasikan asetnya mencapai ribuan triliun rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar hari ini ada di kisaran Rp.13.300-an, Mampukah kelangsungan ekonomi nasional kita bertahan ketika dollar menyentuh Rp. 15.000???

Bukan bermaksud menakut-nakuti, hanya menyuarakan opini, sehingga kita semua sadar bahwa keadaan saat ini adalah genting sekali. Sehingga kita semua dapat memberikan aspirasi ataupun yang mampu memberikan solusi kepada pemerintahan yang berkuasa saat ini, sehingga pergerakan ekonomi menjadi normal kembali.

Semoga Bermanfaat

Gede Semadi Putra

 

6 thoughts on “Berjuang saat Kondisi Ekonomi Melemah Drastis

    • putra gunawan

      Ekonomi makro ja genting gmn mikro ya? tp ad yg bilng dlm kondisi krisis pun umkm masih dianggap kebal krn bergerak di komunitas lokal. Di sektor properti isu pemain kakap sdg tiarap memng snter. Tp dikomonitas bwh kaplingn ttp laku. Bahkn baru dibeli seminggu brhasil dijual dgn peningkatan hrg 50 prsen. Spekuln seakn tak kenal krisis mereka tekun mnyebr info jual – beli lhn dn optimis untung. Bhkn pengmbng jg ad yg santer psng ikln tempel di pohon sepnjng jln menebr peson produk kplingn. ” dijual tnh murh sisa dua kapling trakhir” katanya. Dicek ttp sj mahal. Miniml ini jd motivasi bg konsumn u ttp smngt mmbli. Tnh mkin trbts maka kdpn pst prospek dijual. Di tbnn pak gede pasr menengh bwj kyakny masih prospek
      .. suksm pak gede karya tulisny sllu menarik..

      Like

    • Yess Pak Putra, kondisi ekonomi yang seperti saat ini ditambah dengan krisis ekonomi yunani, puerto rico, kemungkinan negara lain seperti argentina, bakal berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah nantinya dan sentimen investor terhadap negara berkembang kemungkinan akan menunjukkan penurunan kepercayaan, sehingga terjadi penurunan investasi dampaknya makro memang dan ini masih sulit diprediksi kemana ekonomi global arahnya akankah terjadi resesi global perlu di kaji oleh ahli ekonomi. Itu secara makro, jika secara mikro di Bali pada Khususnya, memang penjualan kavling tetap ada namun jumlahnya tidak akan sebanyak tahun sebelumnya, Kenapa? karena jumlah orang yang memiliki dana cadangan yang besar semakin sedikit, akibat dari terjadinya pemotongan subsidi pemerintah terhadap bahan bakar, sehingga biaya hidup secara otomatis meningkat jadi yang pada tahun sebelumnya banyak investor yang pakai uang panas (kredit bank) secara drastis menurun karena beban biaya yang tinggi, saya yakin hampir semua bank pada tahun ini memiliki (NPL) non performing loan yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya akibat ini semua, ditambah juga booming property tahun-tahun sebelumnya menyebabkan banyak pengembang abal-abal yang sekedar nyemplung di bisnis ini, sehingga terjadi oversupply terhadap kebutuhan property, termasuk juga terlalu terlena dengan defisit rumah yang selama ini digembar gemborkan agaknya terlalu ekstrim buktinya serapan terhadap rumah baru yang di buat oleh developer masih saja banyak dibeli oleh investor, artinya keperluan rumah yang dibeli langsung oleh end user yang konon katanyan per tahun 800.000 rumah hitungannya patut dipertanyakan..
      Demikian pak putra semoga bermanfaat…

      Like

    • Siapp suksme pak putra, menurut saya kalo developernya punya uang dingin sekarang saatnya belanja karena banyak lahan yg murah, sehingga bisa ikut program sejuta rumah yg dicanangkan pemerintah pusat, bagi yg belum punya dana dingin sebaiknya segera menjual propertinya secara cepat, sehingga bisa bertahan minimal 2 tahun kedepan, dan sekarang lah saatnya pengembang untuk melakukan konsorsium bekerja bersama sehingga usahanya bisa tetap jalan.. Rasanya gt pak putra..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s