Bali Mau dibawa Kemana?

Standard

Sampai dengan hari ini media di Bali khususnya masih saja berkutat pada Reklamasi teluk benoa atau yang ngetrend sekarang di sebut Revitalisasi. Padahal ada sesuatu yang besar yang sama sekali tidak pernah dikaji secara utuh yang benar-benar berbahaya jika ini tidak direncanakan dengan baik, berikut ulasannya.

Tanggal 8 Desember 2014, saya membaca berita yang sangat menyesakkan di Kompas.com Judulnya “Krisis Air Menghajar Ibu Kota “Surga” Bulan Madu Dunia” Krisis air terjadi di Maldives (Maladewa), kesamaannya sama Bali? sama-sama kepulauan, saya secara personal sebagai penghuni pulau Bali yang sangat terkenal pariwisatanya di dunia menjadi berpikir apa yang terjadi bila Pulau Bali krisis air bersih? Kita semua pasti sadar akan pentingnya Air Bersih bukan? pernahkah anda membayangkan sehari tanpa minum air? tanpa mandi? Kita seakan terlena akan segala sesuatu yang sudah ada kita jadi manja, atau mungkin dibuat manja secara terselubung? terstruktur dan masif? hehe (mafia air bersih – teori kontroversi).

Padahal yang kita tidak sadari, bahwa kita sangat tergantung dengan Pulau lainnya untuk mensupply kebutuhan kita sehari-hari. Sudah waktunya Bali mulai merencanakan tambahan waduk-waduk baru yang super besar untuk kebutuhan air bersih, serta menggalakkan Penalti terhadap penggunaan air yang berlebihan. Saya ingat sekali dulu ketika kuliah di Australia, ketika musim kemarau Pemerintah Australia menerapkan sanksi apabila Air digunakan berlebihan, dan peraturan itu sangat ditaati warganya, karena ketika pemerintah mampu menjelaskan permasalahannya saya yakin masyarakat bisa memahami dan menjalankan aturan tersebut.

Tahukah anda kedepan bukan cuma permasalahan Air bersih yang akan kita rasakan jika tidak direncanakan dengan baik oleh pemerintah daerah Bali dan Kabupaten-Kotamadya di Bali.

Selain Air bersih ada permasalahan sampah, bagi yang sering lewat jalan Tol Benoa, tentu sering melihat tumpukan sampah di Suwung. Ketika saya SD saya ingat sekali sempat diajak ke pelabuhan benoa oleh bapak saya dan sangat saya ingat ketika itu bertanya itu tempat apa pak? “Itu namanya tempat pembuangan sampah Suwung nama daerahnya” saat itu terlihat tumpukan sampah masih rendah. Sekarang anda tahu sudah setinggi apa? menurut berita katanya tahun 2011 saja sudah mencapai 1jutaan M3, bayangken segitu banyaknya sampah dan pasti akan bertambah seiring waktu, terus apa kita mesti nunggu tumpukan sampah itu sampai setinggi Gunung?

Memang secara teknis saya tidak mengerti pengelolaan sampah yang baik tetapi alangkah baiknya bila pemerintah daerah tidak mampu menangani sampah sendiri belajarlah untuk mulai mendukung sektor swasta dalam hal pengelolaan sampah, misalnya dengan memberikan insentif bagi pengusaha sampah, bebas pajak misalnya atau tambahan modal kerja dari APBD, sehingga usaha ini tumbuh. Sehingga usaha ini mampu menangani masalah sampah di Bali, karena banyak lo tipe sampah-sampah tersebut yang bisa didaur ulang dan dapat digunakan lagi untuk produk-produk tertentu dan dijual kembali, dan dengan tingginya tumpukan sampah saat ini mungkin mestinya setiap kabupaten punya minimal 10 pengolahan sampah.

Permasalah berikutnya adalah kemandirian akan Listrik, Sampai saat ini Bali belum mandiri listrik dengan kebutuhan akan listrik di Pulau Bali yang meningkat terus menerus akibat banyaknya kontruksi baru (hotel, villa, rumah, toko, kantor, dll) yang memerlukan pasokan energi khususnya listrik yang besar membuat Bali yang selama ini pasokan listriknya dari Jawa memiliki ketergantungan yang sangat besar. Konon katanya saat ini ada 4 buah Kabel yang mengalirkan listrik dari Jawa ke Bali dan merupakan pemasok listrik terbesar, Pulau Bali bergantung sama 4 Kabel? sedih kan? yang gini-gini kalau dipikirin bakalan bikin galau.

Kalau dilihat dari sisi ekonomi, Bali harus sangat mandiri Listrik, karena ekonomi Bali sangat bergantung pada Pariwisata, masa mau sih wisatawan yang datang ke Bali dan sedang menikmati Bali terus kena pemadaman bergilir trus kepanasan karena ACnya Mati? Bisnis Pariwisata ini bisnis pelayanan, hal yang sepele bisa jadi besar. Sebenarnya pembangkit listrik geothermal bisa jadi solusi, walaupun selama ini pembangkit listrik geothermal ini terus ditolak oleh banyak pihak, namun ini belum pernah benar-benar dijelaskan kenapa? minimal ada sosialisasi untuk menjelaskan penolakan tersebut. Belakangan ada rencana tentang Bali Crossing oleh PLN yaitu proses pemasokan listrik dengan gawangan, namun ini juga tidak membuat bali mandiri listrik.

Jika dibuat listnya mungkin masih banyak permasalahan yang bisa saya ungkapkan disini, namun 3 masalah utama ini yang sangat mendesak untuk dilakukan perencanaan yang baik kedepannya karena seperti kita ketahui jumlah penduduk akan terus bertambah, kalau kita tidak perduli maka akibatnya akan sangat fatal sekali bagi kelangsungan hidup anak cucu kita nanti.

Dapat saya katakan Bali sampai saat ini belum Mandiri sebagai sebuah pulau yang terletak di Negara Indonesia. Apa sih penyebabnya? tentu pertambahan penduduk baik itu karena Urbanisasi, Kelahiran, maupun Kunjungan Wisawatan baik itu Domestik dan Mancanegara.

Sekarang mestinya saat yang baik untuk melakukan pembenahan, disaat dimana pemerintahan Jokowi-JK mencanangkan anggaran Infrastruktur yang lebih besar tahun 2015, berkat penghematan APBN dan dari pengurangan Subsidi BBM. Sehingga Bali dapat merasakan perbaikan infrastruktur yang diperlukan minimal untuk 3 masalah utama tadi diatas.

Semoga Bermanfaat.

Gede Semadi Putra.

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Bali Mau dibawa Kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s