Pembeli Properti Asing? Siapa Takut…

Standard

Belakangan ini mulai banyak berita mengenai kepemilikan properti oleh pihak asing (Warga Negara Asing), Kenapa Tidak? Memang ini merupakan pembahasan dengan Pro dan Kontra tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya, dan setiap permasalahan itu sebenarnya tergantung sudut pandang kita melihat dari sisi mana, Pandangan saya seperti berikut ini…

Tahukah anda bahwa banyak Warga Negara Indonesia yang memiliki dana berlebih justru membeli property di luar negeri. Baik itu karena menyekolahkan anaknya di luar negeri, diberikan kemudahan fasilitas KPR (mortgage), kemudahan pembayaran, maupun memang karena kelebihan yang sehingga memiliki keinginan untuk memiliki properti di luar negeri, akibatnya? Pajak Pembelian Properti akan diterima oleh negara dimana WNI berinvestasi.

Selain Pajak, secara otomatis dana yang dihasilkan oleh WNI di Indonesia akan dibawa ke luar negeri yang menyebabkan adanya outflow of cash dari Indonesia ke Luar Negeri. Ketika uang Indonesia di bawa keluar negeri apa yang terjadi? Jika terjadi dalam jumlah besar akan secara signifikan mempengaruhi nilai tukar rupiah, dengan kata lain nilai tukar rupiah akan menurun, akibatnya secara tidak langsung bahan2 pokok yang sebagian besar impor akan naik harganya.

Ketika WNA belum diperbolehkan memiliki properti di Indonesia maka tidak ada timbal balik Cash Inflow. Mortgage di Luar Negeri menambah Utang Swasta yang jelas-jelas merupakan salah satu trigger terjadinya Krisis Ekonomi tahun 1998. Cash Outflow yang berlebihan memiliki dampak yang berbahaya terhadap defisit neraca pembayaran, khususnya untuk transaksi debit (pembelian oleh WNI di luar negeri. Bayangkan dengan diperbolehkannya pembelian properti oleh WNA maka akan ada Cash Inflow dari luar negeri yang dapat menyeimbangkan Cash Outflow. Jika aturannya dibuka pembelian properti oleh WNA maka Dana Asing akan sangat banyak masuk ke Indonesia.

Selain Hal tersebut apa saja potensi keuntungan yang akan diterima oleh Negara kita?

Negara bisa berjalan dari hasil Pajak yang diterima dan dianggarkan setiap tahun yang kemudian dijadikan Pembelanjaan Infrastruktur, Kesehatan, Pendidikan, Militer, dll. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal mengenai Pajak, jika penjualan properti dibuka untuk WNA maka Pajak terhadap properti tersebut juga akan di terima Negara Indonesia. Bayangkan nilai Pajak yang bisa di proyeksikan di terima oleh negara dapat berjumlah ratusan triliun rupiah. Dana tersebut dapan di anggarkan untuk Pendidikan yang lebih baik, pengembangan daerah tertinggal, dll, selama di anggarkan dengan itikad baik tentunya..

Jika uang asing masuk ke indonesia secara masif maka secara langsung devisa indonesia akan meningkat dan berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah. Penguatan nilai tukar rupiah pasti menambah bargaining power Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang. Produk domestik akan lebih berkembang secara signifikan, Tahukah anda bisnis properti itu baik sebuah kereta api yang mengerek gerbong banyak usaha lainnya? contoh usaha kuari pasir, usaha batu bata, usaha pembesian, usaha pembuatan atap, bisnis retail, komunikasi, listrik, air, dan masih banyakk lagii… Jika ini di dorong oleh pemerintah maka banyak usaha akan ikut serta menikmati pertumbuhan ekonomi.

Selain itu anda tahu sendiri kan? properti tidak bisa dipindah-pindah, Tanah tidak bisa dilahirkan (yang bisa dibawa2 cuman sertifikatnya, tanah dan/atau bangunannya akan tetap saja ada di Indonesia. Hanya saja memang rancangan kebijakan ini di persyaratkan hanya untuk wilayah tertentu di Indonesia, agar tidak semua wilayah dapat dimiliki bebas oleh investor asing dan ini memang harus dijaga ketat oleh pemerintah, Khususnya BPN (Badan Pertanahan Nasional) dan Pemerintah Daerah setempat.

Akibatnya adalah dengan banyaknya uang asing yang masuk ke Indonesia maka akan diperoleh dana segar yang baru yang dapat dipergunakan oleh pemerintah dalam membangun infrastruktur dan program lainnya. Kuncinya adalah pembeli asing jangan diberikan membeli secondary property, atau properti tangan kedua, seperti di australia setiap orang yang non-warga negara australia harus membeli primary properti, atau properti pengembangan baru, hal ini dilakukan agar penjualan properti dapat di kontrol pemerintah karena penjualan rumah secondary pasti sangat sulit sekali di kontrol.

Ketika primary properti yang dijual dasar kontrolnya adalah IMB yang diterbitkan pada lahan yang dibangun properti tersebut, dengan kata lain IMB yang diterbitkan atas nama konsumen asing tersebut langsung, sehingga pemerintah dapat melakukan kontrol bahwa si konsumen asing ini memang membeli primary properti ditambah lagi WNA seharusnya dibatasi untuk memiliki tanah yang tidak ada bangunan di atasnya, karena akan sangat sulit di kontrol perpajakannya, seperti yang terjadi saat ini kebanyakan yang masih menggunakan nominee, ada potensi kerugian nilai pajak, yang seharusnya diterima pemerintah, kecuali kegunaannya adalah untuk membangun industri padat modal dan padat karya yang memang secara kajian teknisnya menguntungkan pemerintah dan rakyat Indonesia.

Sekali lagi topik ini memang banyak Pro dan Kontra, sehingga memerlukan diskusi yang lebih mendalam mengenai plus minus jika aturan ini diberlakukan ataupun tidak. Kebetulan saat ini RUU (Rancangan Undang Undang) Pertanahan sedang di bahas di Dewan sebagai pengganti UU No 5 Tahun 1960 yang dinilai sudah tidak dapat lagi dijadikan acuan karena dapat dikatakan sudah backdate aturannya. Memang dalam RUU Pertanahan, Hak Pakai sudah diatur diperuntukkan untuk kepemilikan asing namun masih membuka potensi asing untuk memiliki hunian non-primary sehingga akan sulit sekali di kontrol.

Semoga Bermanfaat

Gede Semadi Putra

One thought on “Pembeli Properti Asing? Siapa Takut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s