Promosi bukan Biaya tapi Investasi

Standard

Kata banyak marketer tulen, “tidak ada bisnis tanpa penjualan”. Terlepas dari prinsip memperoleh keuntungan ataupun tidak. Karena menurut banyak pebisnis keuntungan didapat sejak membeli, jika seorang pebisnis membeli dengan benar, dengan harga terbaik atau potensi keuntungan terbaik maka dijamin untung, dengan catatan mesti MENJUAL, produk atau jasa tersebut..

Ilmu dasar paling mendasar dalam dunia bisnis adalah Sales atau penjualan, seberapa hebatpun seorang pebisnis di bidang tertentu, jika ide tersebut, baik itu berupa produk atau jasa tapi tidak terjual maka tinggal menghitung hari deh bisnis tersebut. Kalau dilihat dari laporan laba rugi secara akunting, posisi Penjualan itu tempatnya paling atas setelah itu HPP, setelah itu baru biaya. Jika demikian orang akunting pun tahu bahwa pebisnis mesti melakukan penjualan supaya bisa memperoleh keuntungan.

Dengan demikian tentu ilmu mendasar seorang pebisnis mesti bisa menjual dirinya sendiri (dalam arti positif). Contoh simple yang saya maksud adalah, pebisnis mesti bisa meyakinkan kerabat terdekat bahwa bisnis tersebut feasible, tentu disini yang di nilai adalah pebisnis itu sendiri, seberapa passionate pebisnis tersebut dalam mengajukan ide tersebut, mampukah pebisnis meraih hati orang terdekatnya. Setelah itu mesti naik level dengan meyakinkan orang diluar kerabat terdekatnya, misal pemodal (bank/perorangan) dan calon konsumen.

Seorang pebisnis juga biasanya punya karakter dan ciri khas tersendiri dalam menjalankan bisnisnya. Karena masuk ke dunia bisnis merupakan one small step menuju sebuah dunia yang unpredictable. Tidak ada seorang pebisnis pun yang benar-benar mampu memprediksi masa depan, kalopun ada mungkin dia jadi paranormal aja. Namun pebisnis tulen pasti tahan banting, dan dalam prosesnya terjadi lah pembetukan karakter. Ada yang suka nekat terobos dulu baru berpikir kemudian, ada yang berpikir sedikit lalu jalan, ada yang mikirnya lama baru ambil keputusan. Semua type bisa dilalui karena dalam bisnis tidak ada benar dan salah tapi trial and error. Hanya waktu yang menentukan keputusan pebisnis tersebut benar atau salah.

Setiap pebisnis punya pola berbeda-beda dengan tujuan yang sama yaitu memperoleh keuntungan, sehingga dapat digunakan untuk berinvestasi lebih banyak, mengembangkan bisnis, mencari nama besar, berdema lebih banyak, dan tujuan lainnya. Begitu pula dalam hal pemasaran, ada yang suka hard selling (lebih to the point) ada yang suka soft selling (lebih persuasif).

Apapun cara penjualannya tetap diperlukan promosi terlebih dahulu. Bahkan perusahaan dengan produk minuman aqua pun tetap beriklan, kenapa? Supaya brand awareness konsumen mereka tetap melekat. Bahkan Honda pun masih tetap beriklan kenapa? Supaya brand awareness konsumennya gak hilang. Karena hal yang pasti dalam bisnis hanyalah perubahan. Generasi bertumbuh, yang dulunya remaja menjadi, dewasa lalu menjadi orang tua dan benar-benar tua, jadi pemikiran sebagai konsumen produk pun bertumbuh. Sebelumnya menjadi konsumen yang membuat keputusan berdasarkan ingin/tidak ingin menjadi perlu/tidk perlu, dua pertimbangan sangat berbeda outcomenya.

Apalagi jika produk atau jasa kita tergolong baru ataupun brand kita tergolong baru, tentu perlu promosi yang lebih inovatif, khususnya untuk perusahaan baru. Di setiap zaman pasti ada perusahaan besar, menengah dan kecil. Yang kecil bisa jadi besar, yang besar bisa jadi kecil lagi, tergantung kemampuan pengelolanya dalam mengembangkan atau mempertahankan perusahaanya.

Promosi seinovatif apapun yang diterapkan pasti memerlukan biaya. Kadang promosi dengan biaya tergolong murah misal dengan mengajak semua pegawai menyebar brosur, murah? Ya! Karena biaya yang dikeluarin cuman cetak brosur + gaji pegawai. Contoh kedua sebar email massal, murah? Ya! Cuman perlu komputer, internet dan email gratiss tisss.

Promosi mahal, contohnya, mengundang artis ibukota untuk menyanyi di event launching produk. Pasang iklan di media elektronik (televisi) nasional, mahal? ya! Tapi semua tentu ada benchmarknya, perusahaan startup biasanya perlu persentase budget promosi yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan sudah berjalan. Penentuan mahal atau murah diatas berdasarkan nominal rupiah yang dikeluarkan.

Sebenarnya Mahal atau murahnya promosi yang dilakukan sebuah perusahaan tergantung dari penjualan dan keuntungan yang didapat. Ada perusahaan dengan biaya promosi 100 milyar dengan omset 10 trilliun, dengan keuntungan 1,5 trilliun. Ada pula perusahaan dengan budget promosi sebesar 10 juta, dengan omset 100juta dengan keuntungan 30 juta. Mana lebih mahal? Silahkan anda cari tahu jawabannya.

Mahal dan murah sangatlah relatif dalam bisnis karena Promosi menurut saya bukanlah biaya melainkan investasi, well dalam laporan laba rugi secara akunting ini tidak akan pernah terjadi karena laporan akunting sudah standar internasional seperti itu. Kenapa investasi? Ya karena budget yang dikeluarkan pebisnis dalam promosi ini tidak semata-mata hangus dan lenyap begitu saja.

Dalam setiap promosi terlepas dari berhasil atau tidaknya, pasti ada sejumlah audiens yang merespons. Mereka merespons dengan berbagai cara, contoh riilnya, seorang anak orang kaya (cuman contoh) berjalan-jalan ke mall bersama temannya, kebetulan di mall tersebut ada pameran properti, ada spg yang cuman mau buang-buang brosur (semua orang dikasi brosur, tanpa melihat kemampuan beli, semuanya di sebarin), singkat cerita sampailah anak ini dirumah, dan dilihatlah brosur properti itu oleh orang tuanya yang memang sedang kelebihan likuiditas dan ingin berinvestasi di property. Keesokan harinya terjadi deal jual beli properti. Ini adalah cerita sebenarnya yang saya alami sendiri.

Hikmahnya adalah, promosi tidak akan membuat pebisnis rugi. Promosi adalah investasi yang dapat membuat produk/jasa/brand bisnis kita semakin dikenal di masyarakat. Yang buat pebisnis rugi adalah ketika tidak terjadi penjualan terhadap produk / jasa nya.

Promosi Bukan Biaya Tapi Investasi

Semoga Berguna.

Gde Semadi Putra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s