Menariknya mengelola SDM tanpa pengalaman kerja

Standard

Sumber Daya Manusia 

Indonesia memang negeri yang penuh dengan tradisi yang menarik. Ada tradisi tarian, tradisi keagamaan, tradisi sosial, tradisi jam karet, tradisi dadakan, tradisi kebut semalam serta salah satu dari banyak tradisi tersebut adalah tradisi ingin kerja gampang tapi banyak duit. Memang tradisi yang terakhir menurut banyak orang merupakan hal yang di idam-idamkan, dan memang benar saya pun berkhayal hal yang sama. Tetapi dalam kehidupan nyata hal ini sangat sulit sekali tercapai.

Memasuki awal tahun 2013 dunia bisnis banyak sekali yang mengalami kemajuan, terutama yang berhubungan dengan property. Hal ini menimbulkan bertambahnya keperluan akan tenaga kerja yang terampil dibidangnya. Namun, keinginan tersebut sangat sulit didapat terutama karena tidak sedikit lulusan ataupun tenaga terampil di bidang pengawasan bangunan/ sipil yang berkeinginan untuk menjadi pegawai negri, bekerja di bank, dsb. Syukurnya lulusan ini masi ada juga ternyata yang berminat jadi wirausaha, alias mandiri, dengan menjadi pemborong. Tapi yang paling mencolok adalah lulusan baru yang menganggap dirinya cerdas dan berharap gaji besar padahal pengalaman NOL besar.

Hal tersebut diatas merupakan beberapa dari banyak hal yang menyebabkan perusahaan kontraktor mengalami kesulitan dalam menerima tenaga kerja terampil. Banyak alasan tersebut diatas memperkecil jumlah pelamar yang dianggap mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya.

Sedangkan sebagai warga negara Indonesia tentu kita sangat berharap pemerintah melakukan kontrol terhadap jumlah kelulusan sarjana di bidang yang diperlukan oleh bidang usaha yang di rencanakan dalam program pemerintah. Misalnya, tahun 2020 untuk meningkatkan jumlah penerimaan pajak melalui bidang jasa kontruksi, salah satu hal yang perlu disiapkan adalah tenaga kerjanya. Tentu perlu sesuatu yang menarik untuk seorang lulusan Sekolah Menengah agar berlomba-lomba memasuki jurusan tersebut, bisa saja dengan subsidi biaya kuliah, atau jaminan pekerjaan, atau bahkan Upah Minimum ketika lulus sudah ditentukan tahun 2015, jauh sebelum kelulusan. Yang pasti pemerintah sangat diharapkan untuk ikut serta dalam proses ini.

Berlanjut lagi mengenai SDM, akibat dari sedikitnya jumlah lulusan yang dianggap kompeten, akhirnya ada beberapa perusahaan yang mengambil resiko membayar mahal demi mendapatkan the right man on the job. Resiko yang diambil tersebut kadang berhasil , kadang tidak, namanya juga resiko, hehe.

Bagi perusahaan baru, sangat tidak mudah untuk memberikan gaji besar di awal. Akibatnya terpaksalah mempekerjakan lulusan kejuruan atau sarjana yang not qualified. Pelatihan demi pelatihan diajarkan, namun tetap saja tradisi kerja kerja gampang banyak duit begitu melekat pada pemikiran pekerja yang belum pengalaman ini.

Sangat banyak sekali tradisi negatif yang memundurkan moral bangsa ini terutama untuk generasi penerus. Memang pada dasarnya kita tidak boleh menggeneralisir dan menyatakan bahwa semuanya memiliki kelakuan yang sama. Tapi tidak menutup kemungkinan juga, bahwa ketika sebagian besar memiliki tingkah laku yang sama, pada akhirnya yang baik pun ikut arus.

Akar dari permasalahan ini memang sulit dicari, hanya saja kita bisa melakukan introspeksi diri apakah kita merupakan salah satu yang baik atau yang buruk.

Semoga bermanfaat.

3 thoughts on “Menariknya mengelola SDM tanpa pengalaman kerja

  1. Bener sekali penggambaran artikel ini ttg kendala umum dalam merekrut pegawai tnp pengalaman, selain mental kerjanya blm kuat, anak2 baru ini sering kali mikirin gaji dulu dpt berapa alih2 kerja dl sambil cri ilmu dan relasi.. 😉

    Dan mengenai tingginya upah karyawan pengalaman /tenaga ahli.. saya ada satu cara (hanya share tdk bermaksud menggurui hehe), kita bs rekrut org pengalaman dgn gaji kecil dgn cara tawarkan “profit sharing” perusahaan apabila dia bs ikut memberikan peningkatan profit/performa perusahaan. dgn begitu dia akan lbh termotivasi (krn gaji sdh kecil jd all out di profit sharing berdasarkan performa dan merasa ikut “memiliki” perusahaan jd bisa diajak utk jalan bareng kedepan). sepengalaman saya, hal ini lbh murah dan simple dan bermanfaat utk perusahaan drpd mendidik anak baru yg masih hijau sekali hehhe… istilahnya “dapet pemain bintang dengan gaji pemain primavera” hehhe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s