Kapitalisme Asing, Mau??

Standard

Menyimak dialog di Metro TV pada acara Economic Challenges yang dihadiri oleh Barra Hasibuan dan seorang pengusaha dalam negeri, bertemakan Kapitalisme Asing vs Kapitalisme rambut hitam. Dialog ini menyinggung tentang keberpihakan seorang SBY dalam penentuan pengusaha/kaum kapitalis mana yang akan direstui SBY.

Dalam sebuah kampanyenya SBY diberitakan menyatakan bahwa dirinya tidak akan lebih condong ke salah satu kaum kapitalis tetapi akan lebih netral dalam memilih. Ini artinya SBY tidak akan condong ke Asing dan juga Tidak akan Condong ke LOKAL?? lah ini apa maksudnya??? walaupun alasannya agar negara adalah bagian dari ekonomi global tapi tetap saja, ini tidak bisa dikatakan mendukung pengusaha lokal.

Dimana-mana pengusaha lokal memang seharusnya jadi acuan menentukan kebijakan seperti ini. Coba lihat apa yang terjadi di Jepang, Korea, Cina, Amerika mereka negara berkembang yang JAUH lebih mementingkan kepentingan pengusaha dalam negerinya. Apa yang terjadi?? mereka maju kan?? ini yang seharusnya dilakukan oleh pemerintahan 5 tahun kedepan. Ngga boleh ada yang namanya kesamaan Economic Policy antara Pengusaha Lokal dan Pengusaha Asing. Kita mesti kembali kepada konsep Bung Karno yang menjunjung tinggi konsep BERDIKARI.

Sebenarnya kalau pemerintah menjamin adanya kepastian bahwa pengusaha lokallah yang semestinya lebih berkembang maka Indonesia bisa lebih maju dengan masih menjaga kearifan budaya lokalnya. Nah sekarang kalau pengusaha asing/kaum kapitalis asing diberikan kesempatan untuk ikut juga bersaing di Indonesia, memang secara itung-itungan kemungkinan dari pengusaha lokal untuk berkembang jauh lebih sulit. Coba saja ambil contoh, Pemerintah melakukan tender Pengadaan sesuatu dengan Sistem Nilai, disini terdapat penilaian terhadap pengalaman dari perusahaan yang mengajukan penawaran. Nah, jelas saja perusahaan asing yang berani masuk ke negara yang bukan asalnya pasti sudah siap dengan segudang pengalamannya. Otomatis ini menjadi nilai tambah bagi mereka. Nah saat nilai mereka lebih besar dari pengusaha lokal otomatis pula pengusaha lokal GUGUR.

Coba juga bayangkan, sebenarnya yang selama ini ikut berusaha menjaga kestabilan dunia usaha selama krisis siapa? ya jelas perusahaan lokal kan??? Ini seharusnya dilihat secara baik dari sisi pemerintahan. Jangan hanya yang lebih menguntungkan yang dipilih. Sekarang cenderung pemerintah bertindak berdasarkan keinginan untuk memenuhi kebutuhan untuk melunasi hutang luar negerinya tanpa memikirkan perkembangan dunia usaha. Ini secara tidak langsung memang akan mempengaruhi dunia usaha beberapa tahun kedepan. Bagaimana tidak, jika pemerintah tetap membiarkan perusahaan asing menguasai dunia usaha di Indonesia, lama-lama Pemerintah pusat dan daerah bisa – bisa dipengaruhi untuk mengikuti konsep “Free trade” padahal pengusaha Indonesia belum siap sama sekali. Nah kalo uda gini siap-siap lah rakyat Indonesia menjadi buruh asing lagi, kaya zaman penjajahan.

Memang kalau sebenarnya keinginan SBY itu dengan harapan pengusaha Indonesia berusaha lebih keras dalam perjuangan bisnis, maka itu benar. Cuman yang harus tetap diusahakan itu ya kembali lagi, pengusaha lokal harus lebih dibantu, seperti contoh tender diatas. Ya harus dengan mengutamakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Misalnya dengan cara mengharuskan perusahaan asing untuk menginvestasikan 40% keuntungannya kembali ke Indonesia. Contoh lainnya juga tidak memperkenankan dividen di bawa kembali ke negara asalnya.

Masalahnya adalah sekarang di Indonesia sudah masuk 54 dari 100 perusahaan terbesar dunia. Yang antara lain IBM, Siemens, Allianz, Fortis, Microsoft, Mitsubishi, Honda, HP, dll. Perusahaan yang sudah terlanjur masuk ini susah deh dibuatin kontrak dengan konsep baru yang lebih menguntungkan Indonesia, nanti buru-buru deh mereka nyatain mau cabut dari Indonesia kalau ada perubahan Undang-Undang ini kan repot. Jadi yang mesti pemerintah jalanin adalah membuat kekuatan hukum yang pasti yang lebih mendukung pengusaha lokal, dan peerlahan menggeser kedudukan perusahaan asing ini dengan cara membuat perusahaan tandingan terhadap perusahan asing ini. Sehingga keuntungan yang didapat mampu sepenuhnya diserap untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. BERDIKARI!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s